Ekosistem SafeNet

SafeNet Home

Portal Pendidikan & Keterampilan

Edukasi

Contoh Soal AKM SMP Konteks Luwu: Latihan Literasi dan Numerasi yang Bikin Paham

🗓 14 June 2026

Mengapa Soal AKM Sering Terasa Susah?

Banyak siswa di Luwu panik ketika pertama kali melihat tampilan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Soalnya bukan tentang menghafal rumus atau tanggal peristiwa, melainkan berupa cerita panjang yang harus dibaca dengan cermat. Yang membuat AKM berbeda adalah konteksnya. Sering kali, soal-soal tersebut menggunakan cerita tentang pembelian di pasar, data pertanian, atau grafik populasi yang terasa jauh dari keseharian siswa. Padahal, jika soal tersebut menggunakan cerita yang familiar di sekitar mereka, memahami soal AKM akan jadi jauh lebih mudah. Di bawah ini, kami menyediakan 3 contoh soal AKM level SMP yang menggunakan konteks nyata dari Kabupaten Luwu. Silakan dicoba!

Soal 1: Literasi (Membaca Informasi)

Kabupaten Luwu dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2024, luas panen padi di Kecamatan Bua mencapai 3.607 hektar, sedangkan di Kecamatan Ponrang seluas 2.897 hektar. Meskipun luas lahan Bua lebih besar, petani di kedua kecamatan ini sama-sama menghadapi masalah klasik: turunnya harga gabah saat panen raya karena banyaknya hasil panen yang masuk pasar secara bersamaan. Untuk menyiasatinya, sebagian petani mulai menggunakan mesin pengering (box dryer) agar gabah bisa disimpan lebih lama dan dijual saat harga kembali membaik.
Pertanyaan: Berdasarkan teks di atas, pernyataan yang paling tepat adalah...
  1. Kecamatan Ponrang memiliki lahan padi yang lebih luas dibandingkan Kecamatan Bua.
  2. Mesin box dryer digunakan oleh petani untuk mempercepat prosis panen padi.
  3. Turunnya harga gabah disebabkan oleh melimpahnya hasil panen di pasar dalam waktu bersamaan.
  4. Kedua kecamatan tersebut tidak memiliki kendala dalam hal pemasaran hasil panen.

Soal 2: Numerasi (Menalar dan Menghitung)

Pak Andi, seorang guru SMP di Kecamatan Suli, ingin membeli biji kopi robusta khas Luwu sebagai oleh-oleh. Ia membelinya di sebuah koperasi di Belopa dengan harga Rp25.000 per 250 gram. Jarak dari SMP tempat Pak Andi mengajar ke koperasi di Belopa adalah 32 km. Sepeda motor Pak Andi menghabiskan 1 liter bensin untuk setiap 40 km perjalanan. Harga bensin di daerah tersebut adalah Rp6.500 per liter.
Pertanyaan: Jika Pak Andi ingin membeli 250 gram kopi robusta tersebut, berapa total biaya yang harus dikeluarkan untuk bensin (pergi-pulang) dan pembelian kopi?
  1. Rp10.400
  2. Rp25.000
  3. Rp35.400
  4. Rp60.400

Soal 3: Literasi (Memahami Maksud Teks)

Pada tahun 2005, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2005, ibukota Kabupaten Luwu resmi dipindahkan dari Kota Palopo ke Kota Belopa. Pemindahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui berbagai tahapan panjang yang dimulai sejak tahun 2004. Proses tersebut melibatkan pengumpulan aspirasi masyarakat, persetujuan DPRD Kabupaten Luwu, hingga kajian akademik yang dikirim ke Menteri Dalam Negeri. Belopa dipilih karena dianggap memiliki posisi geografis yang lebih strategis untuk menyatukan pemerintahan dan melayani masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Luwu.
Pertanyaan: Apa tujuan utama penulis menyebutkan "Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2005" dalam teks tersebut?
  1. Untuk menjelaskan luas wilayah administratif Kota Belopa saat ini.
  2. Untuk menunjukkan dasar hukum resmi yang mengesahkan pemindahan ibukota.
  3. Untuk membandingkan fasilitas pemerintahan antara Kota Palopo dan Belopa.
  4. Untuk menghitung berapa lama proses pemindahan ibukota tersebut berlangsung.

Kunci Jawaban dan Pembahasan

Klik di sini untuk melihat kunci jawaban dan alur berpikirnya

Soal 1: Jawaban C
Alur berpikir: Kalimat ketiga pada teks secara eksplisit menyebutkan bahwa turunnya harga gabah disebabkan oleh "banyaknya hasil panen yang masuk pasar secara bersamaan". Opsi A salah karena teks menyebutkan luas Bua (3.607) lebih besar dari Ponrang (2.897). Opsi B salah karena mesin box dryer difungsikan untuk menyimpan gabah, bukan mempercepat panen.

Soal 2: Jawaban C
Alur berpikir: 1. Hitung jarak pergi-pulang = 32 km + 32 km = 64 km. 2. Hitung kebutuhan bensin = 64 km / 40 km/liter = 1,6 liter. 3. Hitung biaya bensin = 1,6 liter x Rp6.500 = Rp10.400. 4. Hitung biaya kopi = Rp25.000 (sesuai soal). 5. Total biaya = Rp10.400 + Rp25.000 = Rp35.400.

Soal 3: Jawaban B
Alur berpikir: Dalam teks eksposisi, penyebutan nama regulasi atau undang-undang (dalam hal ini PP No. 80 Tahun 2005) bertujuan untuk memberikan legitimasi hukum (dasar hukum yang kuat) atas sebuah peristiwa besar, yakni pemindahan ibukota. Opsi A dan C salah karena teks tidak membahas luas wilayah atau membandingkan fasilitas. Opsi D salah karena teks menyebutkan tahun terjadinya, bukan menghitung durasi prosesnya.

Biasakan Mengerjakan Soal di Layar Digital

Perhatikan bahwa saat mengerjakan soal-soal di atas, lu mungkin merasa sedikit capek karena harus membaca teks panjang di layar HP atau komputer. Itulah yang akan dirasakan siswa saat pelaksanaan AKM sungguhan. Karena AKM dilaksanakan secara komputerisasi (CBT), siswa tidak hanya harus pintar menjawab, tetapi juga harus punya *stamina* membaca di layar. Jika sekolah hanya mengirim soal-soal latihan dalam bentuk fotokopian atau gambar di grup WhatsApp, siswa tidak akan terbiasa dengan format digital ini. Sekolah yang menggunakan ruang belajar digital untuk sekolah memiliki keuntungan besar, karena guru bisa mengunggah paket soal latihan secara rapi, dan siswa bisa mengerjakannya langsung melalui browser. Terbiasa mengerjakan soal di platform digital bukan hanya membuat siswa lebih lancar saat AKM, tetapi juga secara otomatis menghasilkan data terukur yang bisa dijadikan bukti pemanfaatan teknologi untuk Rapor Pendidikan sekolah.
📎 Sumber: Konsep AKM Kemendikbudristek & Pengembangan Konten Lokal SafeNet Home
← Kembali ke Daftar Artikel